Ketika kata “maling uang rakyat” diganti dengan kata “koruptor” ianya dimaksudkan untuk memperhalus bahasa. Di sini penghalusan bahasa(eufimisme) yang dilakukan menjadikan kita tampak lebih santun dan beradab, meskipun kata koruptor itu sendiri adalah sebuah kata serapan dari bahasa Inggris, corrupt, toh kata serapan tersebut lebih dinilaiartikan daripada bahasa sendiri. Karakter orang Indonesia yang ramah dan sopan sangat mendukung penghalusan bahasa ini, walau sebenarnya bahasa Indonesia telah dihagemoni(dikuasai tanpa sadar) oleh bahasa asing.
Sama halnya dengan kata “babu” yang kemudian di perhalus menjadi "pembantu", dan bila sang pembantu ini keluar negeri(untuk mbabu) maka akan diperhalus lagi sebutannya menjadi "Tenaga Kerja Indonesia Informal(TKII)" atau bahkan lebih kerennya lagi dengan pangkat “Pahlawan Devisa” eufimisme tersebutpun dimaksudkan sama yaitu untuk memperhalus bahasa. Sayangnya bahasa yang terdengar halus ini tidak di barengi dengan nilai kesantunan dan keberadaban. Apalagi kalau TKII yang dimaksud adalah TKII Hongkong, sudah karib suatu "prokem" untuk menambahkan candaan dengan frasa 'Hongkong', sampai sebuah lagupun asyik di goyang dengan frasa “hongkong” …dandan moblong-moblong, kayak bintang Hongkong(Iwak Lohan).
Payahnya masyarakat seolah terlena dengan eufimisme pada maling uang rakyat dan babu ini. Sedangkan, banyak rakyat awam yang berada di daerah-daerah terpelosok yang masih belum mengetahui arti dari kata koruptor yang sesungguhnya. Ramai mereka(rakyat awam) hanya ikut-ikutan saja meneriakkan yel-yel anti korupsi tetapi ketika ditanya tentang arti korupsi atau koruptor yang sebenarnya merekapun tak tahu, sedangkan koruptornya sendiri melenggang dengan bangganya karena toh sebutan koruptor terdengar keren.
Mungkin beda halnya kalau mereka di sebut sebagai maling, rakyat akan segera paham dan tanggap dan mungkin juga sang koruptor akan sedikit mikir untuk melakukan tindak korupsi karena rasa malu,. Maling gitu loh...siapa seh yang tak akan malu kalau di sebut sebagai maling? Ah! Atau seandainya saja KPK(Komisi Pemberantasan Korupsi) di ubah menjadi KPMUR(Komisi Pemberantasan Maling Uang Rakyat), maka semua akan melek arti. Tapi lagi-lagi karena orang Indonesia itu ramah dan sopan dan bahasa serapan itu lebih dinilaiartikan, maka hal itu(eufimisme) di lakukan. Apalagi kalau dilihat KPMUR itu adalah singkatan yang terlalu panjang, ah susah menghafalkannya!
Lain koruptor lain pula TKII. Dalam penghalusan kata ini justru yang menjadi korban adalah TKII itu sendiri, sudah menjadi korban prokem nasionalis yang sengkuniisme(pengamalan atas sifat-sifat Sengkuni), masih pula sebagai korban trafficking dan atau kebijakan pemerintah yang (belum) bijak sebagaimana seharusnya. Eloknya seorang pahlawan(pembantu=pahlawan devisa) adalah mereka yang dielu-elukan karena keberhasilannya membawa perbaikan/kemajuan bagi sesiapapun ataupun negara, namun rupanya pahlawan yang satu ini(pahlawan devisa) justru kerap dielu-elukan penderitaannya atau dielu-elukan dalam artian melecehkan.
Bagaimanapun eufimisme yang digunakan untuk memperhalus bahasa terhadap kata "babu" ianya tak akan berguna bila tak dibarengi dengan tindakan menghargai dan mengakui bahwa mereka itu manusia dan pekerja. Manusia yang perlu dimanusiakan dan pekerja yang perlu dihargai keberadaannya dan dilindungi hak-haknya. Kalau bisa memilih tentu saja para pembantu itu lebih suka di sebut sebagai babu dengan perlindungan hak dan dimanusiakan daripada di sebut sebagai pahlawan devisa tetapi hak-haknya di rampas dan di diskriminasi. Leres tho mbak yu?
Kawans, itu hanya dua buah contoh dari salah kaprah fungsi dari majas eufimisme, masih banyak lagi salah kaprah yang lain, yang belakangan amat di gandrungi untuk menutupi fakta yang sebenarnya.(sengaja membuat judul yang nyleneh dan kurang nyambung dengan isi tulisan, hehehe... Thanks to pujangga78 atas inspirasinya)

Kabar itu begitu singkat tersurat dalam satu kalimat yang terdiri dari tiga suku kata: "Nduk, mbahe meninggal". Ianya terkirim via sms pukul 5 pagi hari ini tanggal 11 oktober 2009. Innalillahi wa innalillahi rojiuunn...
Terkenang percakapan dengan beliau saat aku menemuinya sewaktu aku mudik dua bulan yang lalu, nenek menangis seperti anak kecil karena tidak diijinkan untuk menjemputku di bandara.
"Mbakyumu kuwi nakal kok, aku mau isuk wes adus wis salin tapi kok gak oleh melu mapak kowe. Aku pengin weruh kowe mudhun saka montor mabur," katanya sambil sesenggukan. Kami tertawa mendengarnya. Usianya sudah 90 tahun lebih(kami tak tahu usia sesungguhnya) sifatnya menjadi kekanak-kanakan dan manja. Saat itu nenek sedang sakit sehingga mbakku tidak mengijinkannya untuk ikut menjemputku. Innalillahi wa innalillahi rojiuunn...dariNya kembali padaNya, berusaha untuk mengikhlaskan kepergiannya, semoga nenekku di terima di sisiNya. Amiiinn...
Aku menangkap wajah cinta seorang ibu dengan bola matanya yang berbinar indah ketika sabtu kemaren aku menikmati pening kepalaku di pinggiran Victoria Park.(bukan dalam gambar, gambar itu cuma diambil dari web yang ..udah lupa linknya).
"Wis maem durung Le(sudah makan belum Nak?)?" tanyanya pada anaknya lewat hubungan kawat.
Betapa merdu terdengar kata-kata itu. Selama ini aku hanya menjadi pendengar atas pertanyaan itu, belum menjadi penanya(secara aku belum beranak). Aku merinding merasakan dasyatnya pengaruh dari kalimat tanya itu, betapa tulus dan mesranya... Maka kuputuskan menikmati pening sambil menguping obrolan sang ibu.
"Kenapa mbak?" tanyaku lugu setelah selesai percakapannya. Kulihat sang ibu tersebut mengusap sudut matanya.
"Aku kangen anakku," katanya sendu.
"Sing sabar dan tabah mbak," bujukku.
Ya benar, hidup adalah sebuah pilihan. Menjadi TKW juga pilihan, sekalipun itu bukan pilihan yang layak disebut sebagai pilihan. Seseorang memilih menjadi TKW tentunya tidak semudah memilih mau makan dengan sambel trasi atau dengan ayam panggang. Keputusan yang tentu saja membutuhkan renungan yang panjang, pemikiran yang dalam dan pertimbangan yang matang. Seandainya saja hidup ini semudah apa yang pernah didendangkan oleh koesplus...
Surat Seorang Istri Yang Jadi TKW
Mas,
Apakah Ucok sudah minum susu?
Apakah Mas masih main kartu?
dari uang yang kukirim seminggu yang lalu
dari perasan keringat dan airmataku
Mas,
Pernahkah Ucok bertanya padamu
Pernahkah dia berseru
"Dimana emakku, aku rindu!"
Betapa itu lagu termerdu
di sela piluku
Mas,
Kemarin aku bermimpi
Kau kembali menjadi lelaki
dan aku menanak nasi
Kapan mimpi bisa terbukti
Mas,
Aku lelah berjumpalitan
Bertukar peran
Aku ingin kembali
menjadi istri
Mungkinkah mas?

Cinta tuh..
ada karena kita bisa saling mengerti,
saling peduli, comfort/nyaman..
but terus gimana kalau semua itu bisa kita dapat dari dunia maya????,,,,is that love or just having fun??
Ada 3 demam yang terjadi di Indonesia sejak sebelum Juli tahun 2009, yaitu Pemilu, BBM dan Facebook. Taruh saja demam pemilu sudah lewat, juga demam BBM yang sudah mulai "dimaklumi". Namun demam facebook ternyata maha dasyat sehingga panasnya masih dirasa hingga saat ini.
Pertumbuhan pengguna facebook di Indonesia sangatlah luar biasa. Menurut checkfacebook.com(25 Sept'09) Indonesia merupakan negara terbesar ketujuh pengguna facebook sebanyak 9.642.620 orang. Indonesia menurut Alexa.com berada pada posisi kelima penyumbang trafik tertinggi ke situs facebook.com. Dan bahkan peta “top-sites” (masih menurut alexa.com)yang dikunjungi oleh pengguna Internet di Indonesia telah berubah. Facebook.com kini merangsek ke pertama, mengalahkan Google.com dan Yahoo.com.
Bayangkan! Mulai dari Presiden, sampai dengan anggota Persatuan BCA(baca=Babu Cina Asing alias TKW) sekarang mempunyai waktu dan cara yang unik untuk menjelajah dan berlenggang di jejaring sosial yang satu ini.
Sering si Liya, teman saya(seorang babu HK seperti saya) terlihat masyuk di pojok dapur. Kadang tersenyum sendiri kadang pula cemberut. Tangannya aktif seperti gerakan orang bertasbih sedang bibirnya menciptakan guratan-guratan perasaannya. Namun rupanya si Liya bukannya sedang bertasbih ataupun wiridan melainkan update status atau memberi komentar atas status-status temannya. Beruntung bos Liya adalah sepasang nenek kakek jompo yang hanya makan bubur setiap harinya, jadi kegiatan bertasbihnya tersebut aman-aman saja.
Ada juga seorang anggota DPR yang saking rajinnya dan tidak ingin mengecewakan rekan ataupun fansnya kemudian memanfaatkan waktu di sela-sela rapat paripurna untuk sekedar menengok facebook tercintanya.
Praktis memang, jejaring yang satu ini. Segala informasi dapat di lihat di sini, ianya seperti buku telpon, seperti buku alamat, seperti diary, sekaligus seperti ajang kenarsisan(hayuh ngaku!!). Facebook adalah sebuah fenomena yang fenomenal.
Ada satu hal unik yang sering aku jumpai belakangan ini ketika aku membuka facebookku, ianya di penuhi dengan status yang indah bak seorang yang sedang kasmaran, dengan gombalan-gombalannya mulai dari gombal mukiya hingga gombal mbelgedes.Herannya cuma menggombal di facebook atau dunia maya saja kok ya manjur gombalannya, buktinya wall/dinding facebookpun di penuhi dengan cinta mode on**. Sayangnya setelah mereka putus kembali status dan wall facebook berisikan sumpah serapah,cacian dan makian. Mbok yao di tulis di inbox khan bisa tho, kok sukanya mempermalukan diri sendiri...
Di jamannya Yahoo Messenger/chat masih di puja sebagai dewa penghubung, hal seperti ini juga sering terjadi. Ada yang benar-benar cinta(serius) tapi tak sedikit juga yang tipu daya, hanya kesenangan sementara saja.
NIAT, kejujuran dari kedua belah pihak menjadi dasar dari hubungan di dunia maya ini, bagaimanapun YM/e-mail/facebook hanyalah sebuah sarana atau media, sepenuhnya itu tergantung dari diri kita sendiri untuk mengapresiasikannya. Kadang secara sadar atau tidak kita tidak menjadi diri kita sendiri, menciptakan image baru dengan tujuan untuk mendapat simpati, ini petaka.
NALAR, bener ga seh si dia naksir atau suka sama kamu? Gelagat atau gestur seseorang pasti kentara kalau dia menerima kita dengan lapang dada. Asal ga kepedean saja menyimpulkan sesuatu, artinya jangan menilainya dari satu sisi saja.
NYOCOKIN, dalam segala hal. Pengertian dari kedua pihak adalah mutlak, nyocokin juga berarti bertemu. Walaupun niat sudah ada dan sama, jugapun sudah bisa dinalar namun tetap saja bertemu difatwakan wajib.
"Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (QS. 16 : 1).
(merenung untuk diri sendiri dan seorang kawan yang di landa bimbang...)
Dia hanya berbobot 39 kilogram, dengan tinggi badan 158 cm, bayangkan! Wajahnya pucat, mengingatkanku akan Edward di film Twilight, film vampire falling in love yang sukses itu. Tulang-tulang tubuhnya yang panjang tampak menonjol dengan kentara. Tulang pipi dan dahinya semakin jelas sedang matanya cekung dan berlingkar hitam. Namun senyum itu masih samar terlihat di bibirnya yang kering pecah-pecah, sewaktu bertemu denganku minggu 20 September 2009.
Biasa kupanggil dia Cus, 31 th berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Seperti halnya aku dan dua orang temanku yang menjumpainya hari itu Cus adalah TKW-Hongkong. Aku mengenalnya 5 tahun yang lalu sewaktu masih di Indonesia.
Benar, manusia membawa nasib sendiri-sendiri di bahunya, ketika aku masih setia pada satu majikan selama 4 tahun ini maka tidak demikian yang terjadi pada Cus, dia telah ganti 3 majikan. Kontrak pertamanya berhasil diselesaikannya dengan susah payah, kemudian di terminit(di PHK) setelah 3 bulan kerja di kontrak keduanya selanjutnya dia memutuskan kontrak pada majikan ketiganya setelah tak lagi mampu menerima siksa bathin dari majikannya.
Bertempat di daerah Leon Court, Wong Nai Chung Gap Road dimana rumah seluas 2.200 sq ft dengan sepasang nyonya-tuan dan anak perempuannya tinggal di situlah Cus mengalami tekanan bathin.
Sering Cus mengeluhkan padaku tentang gajinya yang di bayar telat, tentang liburnya yang tak teratur, tentang kerjanya hingga pukul 1 malam, tentang HP dan buku-bukunya yang di sita, tentang makanannya yang tak sehat(tidak segar karena makanan sekali masak untuk satu minggu), juga tentang bosnya yang terkadang mempraktekan jurus tampar muka kepadanya juga aji-aji marah bin misuh-misuh. Singkat kata semakin lama bekerja dengan nyonya-tuan yang luar biasa tersebut Cus mengalami depresi.
Ada lagi satu hal yang menakjubkan sekali yang di lakukan oleh sepasang nyonya-tuan bermobil 2 tersebut kepada Cus, mereka memberhentikan jatah makan Cus ketika Cus menyampaikan bahwa dia tidak makan babi. Praktis Cus harus rela mengeluarkan dolar demi dolarnya di setiap liburnya untuk membeli stok makanan. Lha wong tenagane di peres kok wetenge babune ora di urus, menakjubkan sekali!
Terhitung sejak 12 Agustus 2009 Cus menyerahkan one month notice(surat peringatan pengunduran kerja sebulan sebelum dia keluar dari pekerjaannya) dan sejak saat itu seharusnya Cus hanya oleh tinggal di rumah majikan tersebut hingga 12 September 2009(seharusnya kontrak kerja berakhir tgl 12 sept, untuk kemudian Cus masih boleh tinggal di HK selama 14 hari lagi setelah kontrak kerja berakhir). Namun entah karena sang bos masih mempunyai rasa sedikit cinta kepada Cus atau entah karena apa kepulangannya diundur. Sedang jatah tinggal 14 harinya setelah selesai masa kontrak di tiadakan oleh sang nyonya-tuan karena nyonya-tuan kemudian membelikan tiket kepada Cus dengan waktu yang mepet.
Kepada Agensi di mana Cus disalurkan sang nyonya mengatakan bahwa dia telah membelikan tiket jurusan Hongkong-Surabaya untuk Cus pada tanggal 20 September 2009. Aneh bukan? Cus yang tinggal di Kebumen/jawa tengah tetapi tiket pesawatnya jurusan Surabaya. Lebih anehnya lagi adalah tiket tersebut tidak diserahkan kepada Cus dengan alasan sang nyonya membeli tiket dengan menggunakan passpor Cus jadi nyonya bilang tidak usah menunjukkan tiket tidak apa-apa cukup dengan menunjukkan passpor.Pukul 11.40 pada September 2009 kami(aku, Cus dan 2 orang kawanku yang lain) berangkat menuju Hongkong International Airport dengan canda tawa tanpa mengetahui bahwa kegemparan akan kami dapati di Airport. Cus pun terlihat bahagia bisa terlepas dari tekanan bathinnya dan akan segera bertemu dengan keluarga pada lebaran kedua.
Antrian yang puanjaaang berlipat-lipat panjangnya dari hari biasa(selamat kepada Garuda IA), menguji kesabaran kami hingga perutpun berdendang lagu kelaparan sedang pantat tak habis-habisnya mengeluarkan bau yang tak enak, ya benar, kentut. Beruntung ada mbak-mbak yang jualan nasi bungkus dan jajanan di airport. Tapi karena tinggal dua bungkus saja maka kami berempat layaknya bebek kelaparan saling sosor satu sama lain dengan tak lepasnya pula ketawa dan grememengan juga cekikikan(tipikal Rie Rie cs).
Waktupun tiba ketika sang petugas melambaikan tangannya kepada kami dengan senyum termenawannya dan kebetulan dia adalah petugas yang paling tampan di antara deretan petugas-petugas yang lain, namanya lupa karena kemudian pembicaraan kami mendadak menjadi serius.
Sang petugas meminta E-Ticket(Electronic Ticket=tiket pesawat) dan Cus hanya mampu memberikan passpor saja. Ketika sang petugas menyatakan bahwa tak ada tiket dengan nama Cus di hari itu kami seperti tersengat listrik bertegangan 400 volt, kok bisa??!! Aku meminta sang petugas untuk cross check, mengechek dari minggu sebelumnya hingga hari itu(tgl 20 sept) juga hari-hari setelah hari itu(setelah tgl 20 sept) selama 15 menit kami berada di depan konter dengan perasaan dag dig dug, bahkan sang petugas hingga mengecek di kelas executive. Kemudian di dapati bahwa pada tanggal 21 September(senin) ada penerbangan ke jurusan Surabaya dengan nama Cus, namun petugas tak berani memberikan ticket itu kepada kami dan menyuruh kami pulang mengambil tiket. Cus pucat pasi, airmatanya hampir jatuh.
Kemudian seorang petugas lagi datang menghampiri kami, ku jelaskan semua bahwa kami tidak mempunyai tiket karena sang bos tak mau memberikan tiketnya kepada Cus. Perdebatan antara aku dan dua orang petugas di airportpun tak terelakkan, setengah jam aku berargumen bersama mereka, hingga sebuah keputusan pun di dapat aku harus membayar 160 dolar untuk memajukan penerbangan dari tgl 21 menjadi tanggal 20 sept, aku sepakat tetapi rupanya Cus tak beruntung. Kepala petugas datang dan menekantegaskan bahwa setidaknya kami harus memberitahu nomer tiket saja untuk mendapatkan penerbangan hari itu. Cus menghubungi majikannya dan dengan suara rendah memohon kepada sang nyonya untuk memberitahukan nomer tiketnya tapi sang nyonya tidak memberitahukan dengan berasan dia sedang ada di kantor, bahh!! Hari minggu di kantor?? Alasan yang tak masuk akal.
Kami beranjak dari Hongkong International Airport dengan perasaan kacau dan geram, bukan geram kepada sang petugas melainkan pada sang nyonya bos.
Lagi Cus menelpon nyonya dan lagi sang nyonya mengelak dengan menggantung kami untuk menunggu telpon darinya. Waktu akhirnya datang pada acara perpisahan dengan 2 orang sahabatku yang lain, hanya aku dan Cus yang kemudian nantinya berhadapan dengan sang nyonya-tuan.
Menunggu adalah hal yang teramat tak kusukai terlebih karena yang di tunggu adalah sebangsa manusia yang menganggap babu adalah budak belian sedangkan dia sendiri menganggap dirinya sebagai gusti yang makan babi.
Jam 10.35pm ketika sedan mulus itu memasuki arena parkir dan sang pemilik sedan nyonya-majikan melihat kami maka tak pelak sumpah serapah yang kemudian kami dengar. Dalam hatiku, kalau dia ikut casting film Mak Lampir bersama Farida Pasha tentu saja dia yang akan terpilih melakonkan Mak Lampir dan film Mak Lampir kemudian akan menjadi box office di seluruh dunia.
Dari bicara secara halus kepadanya seperti kita mengemis padanya agar memberikan tiket atau setidaknya memberitahukan nomer tiketpun tak di hindahkannya, merekapun menyuruh satpam untuk mengusir kami, hanya satu yang bisa aku teriakkan,"Yuko lei em pei goi keibiu wakce keibiu number leh, goi tim fan ogei cek? Yuko goi dingyat emfan ogei leh, ngo tei wui hoi Labour, liko hai lei ke fucak(Kalau kamu tak memberinya tiket atau setidaknya nomer tiket itu, bagaimana dia bisa pulang? KAlau dia besok tidak pulang, kita bakal lapor ke Labour/departemen tenaga kerja, kepulangannya adalah tanggung jawabmu). Aku bergetar dalam kemarahanku, pengin rasanya aku meludahi wajahnya atau melemparinya dengan sepatuku.
Kami hampir saja bertolak ketika satpam berujar pada kami bahwa ini bukan pertama kalinya dia berbuat seperti itu kepada babu-babunya terdahulu dan kemudian telepon satpam berdering, sang nyonya berteriak-teriak dalam telpon menyebutkan nomer tiket Cus. Kami pulang ke tempat masing-masing dengan doa dan harapan semoga nomer tiket yang di berikannya itu benar dan semoga besok pemeriksaan di Airport tak ada kendala juga perjalanan pulang Cus lancar. Semalaman aku tak bisa tidur demikian pula Cus. Berharap dan cemas akan apa yang akan terjadi esok harinya...
Senin 21 Oktober 2009, Cus kembali ke Airport sedangkan aku tak bisa lagi mengantarnya karena aku harus bekerja. Dua sms Cus kuterima, pertama saat dia akan berangkat ke airport dan kedua sesampainya dia di airport, kusarankan padanya untuk datang pagi-pagi agar bisa antri paling depan. Jam 10.30 HP ku berdering lagi, terdengar suara Cus kebingungan.
"SLI(nama panggilanku), bosku nelpon aku, dia nyuruh aku, maksa-maksa, aku di suruh ambil tiket," katanya
"Cisiinnn(Gila)," jawabku kaget.
"Aku sudah bilang kalau aku di bandara, tapi dia bentak-bentak gak percaya," tambahnya pula.
"Kamu ga ada waktu buat bolak-balik Cus. Telpon agensimu, bilang sama agen tentang apa yang terjadi kemarin dan gimana perlakuan dia pada kita kemaren. Bilang sama agensi kalau kita sudah pergi kerumahnya dan diapun ga mau ngasih tiketnya, seharusnya agensimu berada di pihakmu, wong kamu ga salah kok," kataku.
Lima menit kemudian aku mendapat sms lagi dari Cus, "Agen bilang jgn pedulikan dia. Kalo hari ni aq ga bs plg, kita lapor Labour. titik."
Aku lega, berarti agen ada di pihak kami. Kusarankan pula kepada Cus agar tak menerima telpon dari sang nynya lagi.
Sang nyonya-tuan rupanya ketakutan, karena telponnya tak di angkat dan juga tak percaya kalau Cus sudah berada di Airport. Mereka pergi ke tempat penginapan Cus untuk mencari tahu tentang Cus. Hal ini di ceritakan teman Cus kepada Cus yang kemudian membuat kami tertawa, rasain!
Akhirnya Cus berhasil check in. Lolos di pengecekan kedua dan berhasil menemukan pintu/gate ke pesawatnya. Kemudian menumpang seorang kawan yang membawanya ke terminal Bungurasih untuk naik bis ke Yogjakarta. Dan tiba di rumahnya pada Selasa jam 9.30 malam.
Cus....We'll miss U, selamat bertemu kembali dengan keluargamu, berjuanglah di sana jangan kembali ke Hongkong, kamipun akan segera pulang...jangan lupakan kami yah.... 
Arep nyang ndi?" pitakone kanthi ulat sujana.
"Yogja mbok," sumaure Sarwoto blaka.
"Ketemu sapa? Nek arep ketemu calon mantuku ya kana, ning nek mung arep kiya-kiya aja!" kandhane maneh. Tangane malang kerik, sikile mbegagah ngebaki lawang ngarep, ngadang kanthi polat ngancam marang Sarwoto.
Sarwoto unjal ambegan, meh dawa kaya sepur Argo Dwipangga jurusan Solo Balapan-Yogjakarta sing pangancange bakal ngebatke lakune tumuju kutho kang durung nate di weruhi kuwi.
Lanang dhuwur pideksa kanthi rikma sapundhak kang di jarke nyamun gulune kang dawa ngula-ula kuwi ndingkluk. Pikirane ambyur ing segara bingung lan wedi kang ora duweni pesisir.
"Nyuwun palilah lan pangestune, aku arep ketemu calon mantumu mbok," sumaure alon, meh wae ora keprungu amarga keslamur suara pitik blorok sing pating petok.
Oh ora! Kanggone nyi Sarwi suara kuwi mau bantere kaya mercon clorot dor sing kerep disumet ing prapatan ngarep omahe.
"Tenan? Ora goroh tho?"
"Tenan mbok, nek menawa cocok mengko..,"
"Rene le rene! ngganggoa klambine kangmasmu sing nembe tuku wingi kae, aja nganggo kaos oblong ngono kuwi. Mbok nek arep ketemu calon ki macak sing ngganteng sithik tho le..le.... Aja ngono kuwi, ora ilok. Kuwi rambute sing gondrong di potong dhisik kana. Oalah le...mbok ngomong kit wingi rak simbok isa mrenahke awakmu tho" pituture simbok, ulatane wes malih 180 drajat. Saka netrane ana rasa bungah kang audubillah gedhene.
Mantu! Calon mantu! Mengkono wola-wali kang ana ing pikire nyi Sarwi.
"Wes tho mbok, bocahe seneng aku apa anane kok. Ora usah ndadak macak barang, kaya wong wedhok wae," kandhane Sarwoto karo jumrantal nyaut jaket ireng kang cumenthel ing paku ing sak cedhake lawang. Rumangsa wes enthuk palilah dening simboke, Sarwoto ngeblas tanpa pamit maneh.
"Di tuturi wong tuwa kok suwala terus! Sida wurung tenan mengko sing dadi calonmu kuwi!" pambengoke nyi Sarwi karo getem-getem, gregeten nyawang anak ragile kang wes ngancik umur patang dasawarsa kuwi.
Degg!! Embuh sing kaping pirane omongan sing kaya mengkono kuwi keprungu dening Sarwoto. Biyen nalikane sepisanan ketemu Endah, kenya brang wetan omahe kang di sir udakara 2 tahun suwene lan nalikane dheweke wes yakin lan ngajak Endah bebrayan, tanpa dinuga sak durunge yen Endah nampik karep becike. Uga biyen kae nalika dheweke pacaran karo Lusi, kenya manis putrine pak Sukur, tembung penambik uga sing di trima. Banjur maneh sapa kae...ah embuh pirang kenyo sing nampik di jak bebrayan karo Sarwoto.
Kroncalan dening rasa kang ngebaki atine, wola-wali Sarwoto unjal ambegan. Ngliwati dalan tumuju stasiun Solo BAlapan netrane nyawang cah cilik gegojegan karo ibune. Uga nyawang cah cilik sing lagi nangis njaluk es krim marang bapake, lan uga nyawang wanodya ayu meh memper karo Fitri, kenya sing bakal di temoni, lagi mlaku reruntungan karo sisihane, kekarone lumaku alon, kala-kala sing lanang ngaras wetenge sing wadon kanthi kebak tresna. Sarwoto mesem kecut.
Sauntara kuwi uga keprungu suarane tukang ngamen kang ngobral lagu kang nemani atine Sarwoto, Cari Jodoh duweke Wali Band.
"Dancuk!" pisuhe Sarwoto karo ngebatke lakune.
Tanpa mangerteni kang ana ing omahe Fitri kang ana ing sacedhake stasiun Tugu, papan dununge Fitri, Sarwoto ngandelke tekad lan mupuk lemu rasa tresnane, ngronce tetembungan kepriye carane dheweke ngajak bebrayan karo Fitri lan kepriye mengko ngomong karo wong tuwane Fitri.
....
"Mas Totok!" panyeluke Fitri.
"Dhik Fitri!" sumaure Sarwoto.
Atine Sarwoto playon lan lunjak-lunjak, bungah. Oh..Pungkasane dheweke ketemu maneh karo wanodya ayu sing tansah ndekem ing pangimpene kuwi.
"Dhewe mas? Piye kabare?" pitakone Fitri.
"Dhewe," sumaure Sarwoto. Lambene dumadakan mendeg anggone mesem nalikane nyumurupi ana lanang gagah pideksa lan sarwa necis penganggone ngawasi kekarone saka udakara 5 meteran sakmburine Fitri. Mripate Sarwoto nyawang Fitri kanthi kebak pitakonan lan antuk wangsulan kang di rasa mecahke sakabehaning pangimpene.
"Aku di pacangake karo wong tuwaku mas," kandhane Fitri.
"oohh...," sumaure Sarwoto gumantung.
Lagi wae jam 3 sore, mung sepuluh menit anggone nemoni geganthilaning atine, Sarwoto nggegeri wanodya ayu kuwi tanpa pamit. Fitri ora nggondheli lakune lan Sarwoto ora mlengak memburi maneh.
Sarwoto sompok. Dheweke rumangsa salah sawijining lakon uripe wis paripurna. Panggung wis di padhangi dening cahya lampu, para pamirsa wis keplok-keplok, para pemain wis ganti sandangan lan bali nyang omahe dhewe-dhewe.
"Simbok, aku wes ketemu calon mantumu, calon wurung, wurung dadi mantumu," guneme alon kanthi netra krethil-krethil, ngguguk, kerem ing samudraning sedih sing embuh kapan tinemu watese.
@@kanggo mitraku ing Kuningan-Jakarta. "Dia bukan satu-satunya kawan, lihatlah dunia dari mata burung bukan dari dalam tempurung."
Blog ini mengalami masa hiatus yang sedemikian panjang, sempat di beberapa email dari kawan menanyakan ada apa gerangan? Himbauan untuk posting kembalipun banjir dari beberapa kawan, ada pula yang menyayangkan turunnya pagerank blog ini dari PR 3 menjadi PR 1. Terima kasih kawans atas dukungannya…Semua itu karena sang pemilik blog(ya aq sendirilah…) lagi pulang kampung, menengok emak dan bapak dan menghadiri beberapa acara(halah gayane…). Eh tapi bener loh, ada acara Festival Sastra Jawa yang di gelar di Trenggalek Jawa Timur(sebagian foto di sini), ada karnaval(hehehehe…Rie Rie kebagian tugas dari pak lurah untuk turut mendandani pamong praja yang macak ala kethoprak, uhuuuiii....fotonya di sini) ups! Sempet bertemu dengan beberapa kawan dekat dan beberapa blogger, terlebih bisa cuap-cuap dengan pak Suparta Brata, Tiwik SA, Blontank Poer dan Pak Guru(sama P Blontank dan Pak Guru ga sempet ketemu, cuma lewat kawat/hp) dan banyak lagi lainnya.
Uiyah, makasih atas seseorang yang nganter Rie pulang dari Cepu-Padangan(makasih atas sego pecel nya, maap Statusnya jadi adik P. Hury, wkwkwk…). Trus sempet ke Yogja ketemu Afif(ga perlu di sebut linknya yah..) makasih dah nganter ke Malioboro untuk nyari oleh-oleh titipan dari si wedus Wanthy(Wanthy ngerjain Rie, hiks…). Trus ke jakarta ketemu mbak Uci, makasih dah nemenin Rie selama 2 hari dan makasih atas hotel terindah di Jakartanya yah, hehhe…) dan beberapa kawan yang lain. Munyuk…makasih atas ancol, monas dan gambirnya juga atas riding-ridingnya, hehehe… Munyuk-munyuk yang ga mau di sebutin nama dan linknya(awas lu!). Dan juga seseorang..eh dua orang…di Citos membicarakan tentang....(hohoho…rahasia!), makasih ice chocolatenya. Juga teramat makasih buat seseorang yang kujumpai di Rembang, unforgetable...
Eh iya makasih buat P. Hury yang sering nengokin Rie dan ngajak Rie muter-muter Blora lihat karnaval di Blora yang “njelehi” sehingga Rie milih potong rambut dan pijet sementara Pak Hury sibuk motret, hehehehe…. Makasih pada semua kawan dari Bojonegoro yang memberi kesempatan Rie untuk nyinden di depan warga desa Cakul-Dongko-Trenggalek dengan suara nggleyor seperti kaset nglokor, wkwkwkwk….pemaksaan suara, huahahaha….
Makasih pada mbak Ira dari Indo Suara Taiwan beserta temennya dan Kang Bon yang nyempetin dolan ke Blora.
Makasih pada semua kawanku…
(lho kok postingan kali ni tentang ucapan makasih, hiks...)
But, ternyata Rie Rie membawa virus, firus flu(untung bukan flu babi), hampir semua kawan yang ketemu Rie trus jatuh sakit, kesiaaan deh…
So, jadi….sepertinya bakal banyak yang akan kutulis, banyak yang akan kuceritakan, banyak yang akan ku complainkan….
Maka dengan ini Rie nyatakan BABU NGEBLOG UPDATED !!
(Halah gayane…..)![]()
Pada acara "A Taste of Culture" yang di adakan di Small World Kindergarten(sekolah TK Katelyn), semua anak memakai baju yang mewakili negara asalnya. Nicole dengan pakaian putri di jaman dinasti Tang(China), Edwina dengan kostum koala(Australia), Tong En dengan kostum Gaoshan(Taiwan), sedang Katelyn dan beberapa teman yang lainnya memakai pakaian China kebanyakan.
Ratusan jepret foto beserta rekaman video mereka telah aku ambil dan aku jengah. Di sana akulah satu-satunya pembantu atau babu di tengah-tengah para guru, anak-anak dan orang tua mereka, bosku berhalangan hadir.
Maaf, bukan aku hendak memberitakan tentang jalannya sebuah acara kanak-kanak dengan iringan lagu Twinkle Twinkle Little Star dan Haleluyyah yang membosankan, melainkan suatu hal lain yang menyinggung kepedulianku pada Indonesia(kalau tak boleh di bilang nasionalis).
Adalah Edward dan Emma yang kemudian menarik perhatianku, kostum yang mereka kenakan membuat pikiranku berloncatan dan percakapan singkatku dengan merekapun menjadikan renunganku di hari itu.
"Hi Edward, Emma! Nice costume," kataku pada mereka.
"Thank you. I'm Superman, you see," kata Edward.
"Yeah, and I am Wonder Women," kata Emma.
"I see. But why are you wearing these costumes?
"Cos they are hero, American Hero!" jawab mereka hampir serentak.
Seketika aku merasa telah salah kostum, melihat saat itu aku memakai celana jeans dan kaos warna biru, keduanya tidak mencerminkan Indonesia ataupun hero/pahlawan dari Indonesia. Detik itu juga aku membayangkan memakai kebaya ala Kartini atau kain merah putih yang melilit minim seperti peragawati, detik selanjutnya aku menyalahkan bayangan pertamaku tadi kemudian menggantikannya dengan sebuah sosok lain yang lebih pantas di sebut sebagai pahlawan untuk saat ini dan aku tersedak. Pilihannya banyak, namun aku belum yakin kalau mereka pantas aku pilih.
Bukan lantaran mereka tak mempunyai kekuatan super seperti halnya Superman ataupun Wonder Women, terbang tanpa sayap dengan keyakinan mantap, bukan.
Tapi karena mereka(pahlawan Indonesia) terlalu fasih menyanyikan lagu "Hero" daripada lagu "Kulihat Ibu Pertiwi" :I can be your hero, baby.
mendadak menjadi proffesional singer setara Enrique Iglesias, menyanyikan politik umuk dan menjanjikan multiple orgasme. bah!
I can kiss away the pain.
I will stand by you forever.
You can take my breath away.(enrique iglesias)
Telah banyak fakta yang melenceng jauh dari janji para (katanya)pahlawan praja. Entah karena mereka telah dengan suksesnya mengubah kita menjadi gedibal yang bodoh ataupun mereka yang membodohkan diri sendiri. Keduanya adalah sangat mungkin.
Tingkat kemiskinan yang di kabarkan menurun(seperti dalam pidato SBY dalam sidang paripurna di gedung DPR/MPR) sangat ironis dengan fakta perebutan BLT dan atau perebutan zakat di pasuruan atau bahkan lebih ironis lagi bila di bandingkan dengan jumlah kekayaan yang menculek mata dari para penggede yang berebutan simpati dan kursi di atas punggung-punggung tak berdaging rakyatnya. Pengupayaan perbaikan ekonomi rakyat dengan memperbanyak pengiriman TKI ke luar negeri yang tidak di ikuti dengan pengakuan hak dan perlindungan yang layak adalah hal lumrah yang merupakan warisan dari generasi ke generasi kepemimpinan. Atau ingin bukti ketimpangan dan pelencengan yang lain?
Oh...mungkin Bonnie Tyler dengan "I need a hero" akan menjadi cocok untuk menggantikan lagu "Indonesia Raya"I need a hero.
I'm holding out for a hero 'til the morning light.
He's gotta be sure
and it's gotta be soon
And he's gotta be larger than life!(Bonnie Tyler)
Sembari mengurut dada yang berkotang 32 D(cuilik men, hiks..), aku mempunyai sebuah pertanyaan yang di akhiri dengan sebuah tanda tanya yang amat sangat besar sekali:
Bila para penggede dan (katanya)pahlawan bangsa menggunakan kuasa dan kekuasaannya melenceng jauh dari janji dan tujuan semula, apakah kita siap dengan kemungkinan yang terparah? ![]()
Dengan kepala pusing, bersin-bersin, batuk, hidung tersumbat, ingusan, radang tenggorokan, sariawan dan demam yang datang pada satu waktu, aku merasakan dirikulah pemilik dari 8 keajaiban dunia.
Selama sebulan blog ini tak tersentuh, karena flu datang dan pergi dan datang lagi, hingga saat aku menuliskan postingan ini ianyapun belum sepenuhnya pergi.
4 kali kencan dengan dokter membuatku menangis. Bukan karena kuitansi yang harus kubayar(khan ada asuransi) tetapi karena oleh-oleh yang di berikan sang Dokter berupa obat warna-warni dan aneka macam. Aku takut minum obat. Bayangkan, dengan 1 gelas air baru aku bisa menelan 1 biji obat, sedangkan setidaknya ada 5-6 biji obat yang harus kutelan, berarti....6 gelas??!! Oh tidaaaakkkkk...!!
Pergantian cuaca di Hongkong membuatku sakit, di tambah dengan pekerjaan yang semakin padat hingga larut jam 11.30 malam baru terselesaikan. Masihpun memaksakan diri untuk membuka internet ataupun membantu beberapa teman menginstall netbook atau memindahkan foto dari memory card ke CD. Tenagaku benar-benar terforsir melampaui kemampuanku. Dan kalau flu ini kudapatkan, inilah akibat dari tidak menghormati dan mengerti kebutuhan jasmani diri sendiri, setimpal.
Ada beberapa kenangan unik selama aku flu. Ketika aku di haruskan memakai masker(karena bersin dan batuk) yang tampak hanyalah dua butir mataku yang memerah dan berkaca-kaca membuat orang di sekelilingku takut. Apalagi saat ini sedang ramai-ramainya swine flu/flu babi. Itu membuatku kesulitan untuk bertanya ketika aku tersesat jalan atau bingung, tiada sesiapapun yang mau menjawab pertanyaanku, itu susahnya.
Tapi akulah raja di MTR(kereta bawah tanah) karena tidak ada orang yang berani mendekatiku aku bisa duduk dengan leluasa, 6 deret kursi hanya milikku. Hal ini menelurkan ide yang cemerlang bagiku. Kebiasaan burukku sampai saat ini adalah memakai masker di MTR dan pura-pura batuk hingga semua orang menghindar dariku dan aku bisa menguasai banyak kursi, hehehe...
......
Sayang sekali aku terlewatkan beberapa momen penting yang bisa dijadikan tulisan menarik(setidaknya bagiku) untuk di renungkan...
Ada pesta budaya di Hongkong, hari buruh, hari ibu, penipuan terhadap TKW, gonjang-ganjing kenaikan upah TKW lokal dan migran, caleg...dan banyak lagi. Hopefully I can catch up with other news/story soon... Happy blogging to you and meself....!!![]()
klik sini untuk selengkapnya....
Pemilik Blog Ini
- Rie Rie
- Happy Valley, Hong Kong
- Not so ordinary "babu" with not so ordinary thought. Halah...
Kategori Tulisan
Arsip
Indonesia & sekitarnya
Antown
Ashar R W
Bang Aminhad Malaysia
Bang Latip Malaysia
Bang Yoes
Bayu Mukti
Bening
Beranda Fahmi
Brigadesta
Carla
Catur Stanis
Cerita Usang
Dandelion
David
Deedee
Ducky
Es Dawet
Elisanta
Evan
Ika
Ikhsan
Genx lutung
Gunawan
Hentakun
Hujan Musik
Iskandar
joe
Kang Alim
Kang Budhi Setyawan
Kang Bonari Ngeyelan
Kang Slamet
Mas Trie
Mbah Im
Mbah Koeng
Mbak Lusi
Nina Fabulous
Nirmana
Ohtrie
Omtri
Pak Guru
Potterclay
Pujangga 78
Punda
Ratih NoPatriarki
Rawins
Reda Gautama
Ria Articraft
Rusdi Mathari
Samunji
Simbah
Si Tupai
Sunlie Jelek
Terlihat Ono
Thopenx
Tukang Nggunem Vie-Three
Wahyu Riyadi
WS Darma
